Oleh: Vella Vista
Tangan menadah menuai duka pilu tak bernyawa
Menuai tangis kehilangan menerpa digelap malam
Aku berhenti sejenak tersenyum dibalik kalbu kerinduanku
Mengenang peluk sang wanita dimasa lalu, seakan menjadi bintang dikala malamku
Aku termenung, aku terbuai lamunan manjaku
Seakan merobek kalbu jiwa yang rentan kian retak
Apadaya kaki terinjak buai kenangan dimasa lalu
Terinjak damai kasih bercintamu duhai ibu
Tatkala aku bagaikan terhempas gelombang duka
Seakan membara dalam kerumunan hasrat jiwa
Hasrat yang kini kian tak mengenal suka bercinta
Hanya air suci mengalir deras dengan sebongkah do’a pilu kepahitan ibu..
Tersayat jelas dalam duka embunan tangis
Adinda tersimpuh menatap awan gelap malam
Menatap kosong harapan suka duka dikala masa
Tercurah sudah mengenai lantai tak berbekas
Berilah damai hasrat jiwamu ibu
Tatkala berikan aku kehangatan walau sejenak tak bias tersentuh buai
Seakan temanilah aku dalam kesendirianku
Tertetes hujan embunan menyayat suka
Malam ini aku ucapkan sejenak keikhlasanku
Sejenak do’akan kebahagian mu dialam baqa
Sejenak deraian air suci ini membunuh hasrat jiwa ku
Sejenak memejamkan mata menimpikan kehadiranmu kelak menjadi anugerah
Jadukanlah tangisku sebagai pelindung jiwamu
Walau tak bersua dalam nyawa namun kita 1 jiwa
Tak akan luput do’a kerinduan ku panjatkan
Demi pelipur jiwa dalam hasrat embunan cahaya abadi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar